Film dokumenter
ini berjudul “Linimas(s)a” atau
“Timeliner(s)” dalam bahasa Inggris. Maksud dari
judul tersebut adalah permainan kata antara istilah “linimasa” alias “timeline” yang
banyak digunakan dalam media sosial dengan “massa”, yang bisa berarti kelompok,
komunitas ataupun masyarakat luas. “Linimas(s)a” menggambarkan kekuatan gerakan sosial publik
dalam jaringan offline maupun online, yang saling beresonansi, bersinergi dan
menguatkan secara signifikan serta mendeskripsikan pemanfaatan Internet dan
media sosial oleh orang biasa untuk melakukan hal yang luar biasa. Film
dokumenter ini terbagi menjadi 2 edisi yaitu “Linimas(s)a 1” dan “Linimas(s)a
2”
“Linimas(s)a
1 “ yang berdurasi 45 menit ini disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan
Donny B.U. sebagai Produser Eksekutif. Film ini merupakan inisiatif dari ICT
Watch dan diproduksi bersama dengan WatchdoC. Hak cipta dan hak distribusi dipegang
sepenuhnya oleh ICT Watch.
“Linimas(s)a 1” mengisahkan
tentang penggunaan media sosial di kalangan masyarakat. Mulai dari kisah
seorang tukang becak yang mempromosikan jasanya melalui Facebook. Lalu
berlanjut dengan kisah orang-orang dengan fisik yang tidak sempurna (difabel)
yang antusias dalam mempelajari internet, kisah koin Prita yang menggugah
empati para pengguna sosial media bahkan Peristiwa Meletusnya Gunung Merapi
yang dapat diketahui dengan cepat melalui penggunaan media sosial.
Pendapat saya
atas film ini sangat inspiratif dan memberikan contoh bahwa beberapa masyarakat
di Indonesia baik di kota maupun di perdesaan
sudah mengenal teknologi informasi dengan menggunakan sarana media
sosial untuk memudahkan menawarkan jasa serta mendapatkan informasi terkini
yang aktual. walaupun masih perlu ditelusuri kebenaran berita atau informasi
yang disebarluaskan melalui media sosial
.
Saya sangat
menyarankan film dokumenter “Linimas(s)a 1” ini ditonton dan disaksikan
beramai-ramai, karena film dokumenter yang bertema seperti ini sangat masih
jarang diproduksi di Indonesia. Film “Linimas(s)a 1” ini menginspirasi dan memotivasi bahwa
sebagian masyarakat di Indonesia baik yang berada di perkotaan dan perdesaan
sudah tak terhalangi oleh batas-batas daerah dan wilayah karena sudah tersentuh
oleh efek globalisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar